Prev
Next
Adegan dari film ini, Horta bercerita kepada East bahwa Indonesia tidak bertindak sendiri, dan bawah pemerintah barat dengan seksama terlibat.
CAVR menyimpulkan1 :
Baik Pemerintah Indonesia maupun Amerika tahu bahwa senjata AS dipakai dalam invasi (serbuan) Timor Leste. Anggota kongres wanita AS, Helen Meyner, memberitahu team penyelidik Kongresional pada 1977 bahwa Jendral Moerdani mengkonfirmasikan pengunaan perlengkapan AS:
"Ketika kami bertemu di Djakarta dengan beberapa atasan militer Indonesia ... John Salzberg bertanya kepada Jenderal Moerdani apakah senjata US digunakan pada tahun 1975. Ia berkata, "Tentu saja, hanya senjata US yang kami miliki. Tentu saja terdapat senjata AS. "
Dewan Keamanan Nasional AS diberitahu pada tanggal 12 Desember 1975 bahwa peralatan ASdig unakan dalam invasi.151 Laporan kepada NSC menyatakan bahwa peralatan yang disediakan oleh As termasuk berikut ini:
- Sedikitnya sembilan ex kapal Navy AS, satu di antaranya, Martadinata KRI, terlibat dalam penembakan di pesisir pada tanggal 22 November dan ikut ambil bagian dalam satu jam pemboman oleh pangkalan angkatan laut yang mengawali penyerangan di Dili pada tanggal 7 Desember.
- 13 pesawat digunakan dalam serangan di Dili dan Baucau.
- Peralatan yang digunakan oleh ke18 Airborne Brigade pada para- pendaratan di Dili pada tanggal 7 Desember dan Airborne Brigade 17 terlibat dalam pendaratan di Baucau pada tanggal 10 Desember; yang terdiri dari pasukan penembak, senjata mesin, granat launchers, mortars, roket launchers, parachutes dan radio; Master pelompat mereka dilatih oleh AS.
- Peralatan radio AS digunakan oleh pusat komunikasi di Atambua, Timor Indonesia, yang mengontrol operasi di Timor.
Jose Ramos-Horta menyampaikan kepada CAVR bahwa banyak yang harus di jawab olej Amerika Serikat:
"AS yang terburuk. Terburuk karena AS merupakan satu satunya negara yang dapat mengberitahukan kepada orang Indonesia, setelah invasi, bukan hanya sebelum tetapi kemudian: "Kamu berperilaku, hentikan pembunuhan ini ", tetapi mereka tidak mau ... dan mereka tahu apa yang benar."
Duta Besar AS untuk PBB pada saat itu, Daniel Patrick Moynihan, menulis:
"Amerika Serikat menginginkan hal sebagaimana yang telah dilakukan, dan berusaha agar terjadi. AS berkehendak PBB membuktikan sama sekali ketidak efektif dalam langkah apapun. Tugas ini diberikan kepada saya, dan saya menjalankannya tanpa mempertimbangkan kesuksesan. "2
1 For details, see CAVR 2005, Part 7.1 - Self-Determination.
2 D.P. Moynihan 1980, A Dangerous Place, Little Brown, p 247.
top