School of Humanities and Social Sciences (HASS)

Prev

Next

Americo Ximenes adalah komandan 150 pasukan Fretilin yang berpusat di Balibo. Dia sudah berada di Balibo selama dua belas hari sebelum serangan 16 Oktober 1975. Nama kode -Nya Sabica Besi Kulit berarti "anti peluru". (Sabica, yang diucapkan "Sabika", berarti "menutupi"; Besi Kulit berarti "kulit Besi")

Menurut Sabica, para wartawan ramah dan baik dengan semua orang. Mereka berkediaman di Balibo di rumah seorang pedagang Cina (rumah dimana Greg Shackleton melukiskan bendera Australia). Dikenal sebagai rumah Cina.

Serangan di Balibo, merupakan bagian dari serangan umum di sepanjang perbatasan, dimulai dengan diversionary operasi di Batugade (sekitar 10 km). Empat atau lima tangki digerakkan sekitar Batugade untuk mengelabui Fretilin dan membuat mereka percaya bahwa Indonesia telah menguasai satu-satunya jalan sempit dari Batugade ke Balibo. Artileri juga digunakan untuk melunakkan pembela Fretilin.

Fajar matahari terbit terjadi pada pukul 0517. Dengan demikian sudah terang ketika serangan di Balibo dimulai pada pukul 0600. Pertempuran sangat minim karena pasukan Fretilin tidak pernah bermaksud untuk menduduki kota. Pertemuran berakhir sekitar pukul 0645.

Sabica berjuang melawan kedudukan Indonesia dalam perang selama jangka waktu 24 tahun. Dia menjadi anggota senior Falintil (Pasukan bersenjata untuk pembebasan Nasional Timor Leste)1. Beliau adalah komandan militer wilayah 2, yang meliputi Baucau, Viqueque dan Manatuto2. Dia bergabung dengan Angkatan Pertahanan Timor Leste setelah kemerdekaan.

Kegigihan perlawanan bersenjata menunjukan fakta penting: perlawanan bersenjata tidak kalah dengan okupasi militer Indonesia. Peran utamanya adalah menghidupkan/mengbankitkan simbol perlawanan Timor Leste. Karena itu, cocok dengan sebuah konsep perjuangan kemerdekaan yang akhirnya dipahami oleh dunia. CAVR mencatat bahwa:

"Diplomasi perlawanan rakyat Timor Leste merupakan faktor paling penting dalam mencapai penentuan nasib sendiri. Komitmen perlawanan yang dipelihara menghadapi tantangan luar biasa termasuk perpecahan signifikan, kendala sumber daya, isolasi dan banyak peluang, baik di dalam dan di luar Timor Leste. Diplomasi perlawanan akhirnya berhasil karena berfokus pada prinsip-prinsip internasional yang disepakati, seperti menghindari ideologi dan kekerasan, terbuka untuk kontribusi dari semua rakyat Timor Leste, dan secara maksimal menggunakan sistem internasional, media dan jaringan masyarakat madani. Sebagai masalah hak asasi manusia dan moral (daripada ideologis), permasalahan Timor Leste memperoleh legitimasi dan dukungan internasional dengan kasus kekerasan militer Indonesia dan ketidaan dasar hukum atau moralitas internasional. "3

1 Forças Armadas de Libertaçâo Nacional de Timor Leste.

2 There were four Falintil regions following the 1998 territorial re-structure of the resistance.

3 Chega 2005, Executive Summary, p 52.

top