School of Humanities and Social Sciences (HASS)

Prev

Next

Gambar ini menggambarkan Mayor Jenderal Benny Murdani dengan seragam safari dengan pengawal pribadi pasukan khusus (baret merah) dan pasukan lainnya di Dili. Roger East yang di sebelah kanan. Seragam yang dikenakan oleh para pemeran adalah pakaian loren pola seragam yang dipakai pada tahun 1975. The pistol FN adalah 9mm Browning HP diproduksi oleh PT Pindad.

Di sini menampilkan bagaimana invasi terjadi dalam kehidupan nyata1:

8 Desember 1975 (pagi setelah invasi): Mayor Jenderal Benny Murdani (kepala intelijen militer Indonesia) tiba di bandara Dili pada pagi hari dengan sebuah pesawat Twin Otter. Beliau berpakaian safari dan dikawal oleh pasukan Intelije siap perang yang dipimpin Kapten Nurdin (Infantry). Kedatangannya diliput oleh tiga koresponden perang Indonesia Djumaryo, Ucin Nusirwan dan Saleh Kamah. Murdani bertemu Kolonel Dading Kalbuadi dan menginspeksi Dili dengan kendaraan amfibi BTR-50 bersama Kalbuadi dan dua petugasLainnya (Kolonel Sinaga dan Navy Captain Kasenda).

Pembunuhan di dermaga, pada tanggal 8 Desember 1975 (pukul 0900): 27 wanita di tawan, beberapa orang Cina dan beberapa orang Timor, ditawan di dermaga. Beberapa wanita memiliki anak, dan mereka semua menangis. Prajurit Indonesia mengambil anak anak yang menangis dari ibu mereka dan memberikan mereka ke keramaian. Prajurit menembak para wanita satu per satu, memerintahkan para saksi untuk menghitung dan mereka melakukannya. 59 orang lainnya ditembak pada sore hari dengan cara yang sama. Ini adalah bagaimana kita mengetahui bahwa 86 terbunuh di dermaga pada hari itu.

Antara pukul 0900 dan pukul 1400: Para prajurit menembak sekelompok pemimpin Cina di jalan dekat Hotel Mimosa. Mereka juga menembak supir jip Palang Merah yang telah diberi tanda dengan jelas. Para prajurit juga menembak tiga puluh orang di luar bekas markas polisi militer.

Sebuah toko milik orang Cina, mengibarkan bendera Australia dari lantai tiga. Para prajurit sangat marah melihat bendera Australia. Mereka naik tangga dan menembak semua 23 pengungsi yang berteduh di apartemen di lantai tiga.

Mayat (banyak wanita, beberapa anak-anak) berada dimana mana di semu jalan di Dili. Prajurit memerintahkan beberapa orang Timor untuk memindahkan mayat. Beberapa orang Cina Timor (setidaknya tiga belas orang) perintahkan untuk menyiapkan ladang rumput di depan pelabuhan untuk dijadikan kuburan. Prajurit Indonesia membunuh mereka kemudian di pelabuhan.

East di seret ke dermaga, kedua tangannya diikat dengan kawat. Prajurit menendang dia dan menusuknya dengan bayonet. Dia terus berteriak mamaki mereka. Ketika dia berada di dermaga, menurut seorang saksi mata Cina yang berdiri beberapa meter darinya paa saat itu, Roger East berpaling dari laut dan bertatap muka dengan pasukan Indonesia. Dia berteriak dengan frasa seperti, "Saya bukan Fretilin", "Saya orang Australia". Pasukan Indonesia menembak dia bersama dengan yang lainya. Tubuhnya dilempar ke dalam laut.

1 Jim Dunn's pioneering investigations helped establish the truth about these events. See also Chega Part 7.2 - Unlawful Killings and Enforced Disappearances.

top