Prev
Next
Gambar ini menggambarkan Mayor Jenderal Benny Murdani dengan seragam safari dengan pengawal pribadi pasukan khusus (baret merah) dan pasukan lainnya di Dili. Roger East yang di sebelah kanan. Seragam yang dikenakan oleh para pemeran adalah pakaian loren pola seragam yang dipakai pada tahun 1975. The pistol FN adalah 9mm Browning HP diproduksi oleh PT Pindad.
Di sini menampilkan bagaimana invasi terjadi dalam kehidupan nyata1:
- Pada pukul 0200 dinihari tanggal 7 Desember 1975, beberapa (lebih dari lima) kapal perang Indonesia terlihat dari pantai Dili. Fretilin Dili mematikan listrik pada pukul 0300, membiarkan kota Dili dalam kegelapan. Beberapa kapal perang melepaskan tembakan ke Dili secara langsung - bertentangan dengan perintah mereka - dan kehilangan unsur kejutan. Semua kapal perang kemudian diperintahkan untuk buka api.
- Sekitar pukul 0430, 400 pasukan Indonesia mendarat di Kampung Alor (wilayah Dili barat) menggunakan lampu amfibi dan tangki dengan personil berlapis baja. Mereka mengamankan kawasan pada pukul 0700. Navi Indonesia mengira (keliru) pembela Fretilin berpangkal di Dili barat, jadi mereka melepaskan tembakan, membunuh beberapa pasukan mereka sendiri.
- Beberapa saat sebelum pukul 0600, sembilan pesawat Hercules C-130B menurunkan pasukan terjun paying di Dili. Berbagai bahaya perkotaan mengakibatkan cedera pada saat pendaratan. Satu kelompok pasukan terjun paying mendarat di laut dan tenggelam. Pasukan terjun payung lainnya dihadang dengan tembakan dari Fretilin ketika masih di udara.
- Sekitar pukul 0800, pasukan parasut kedua yang diturunkan menyebabkan kebingungan karena unit unit pasukan Indonesia saling tembak-menembak. Komadan Komandan Indonesia membatalkan penurunan parasut yang dijadwalkan untuk sore hari karena korban yang ditimbulkan.
8 Desember 1975 (pagi setelah invasi): Mayor Jenderal Benny Murdani (kepala intelijen militer Indonesia) tiba di bandara Dili pada pagi hari dengan sebuah pesawat Twin Otter. Beliau berpakaian safari dan dikawal oleh pasukan Intelije siap perang yang dipimpin Kapten Nurdin (Infantry). Kedatangannya diliput oleh tiga koresponden perang Indonesia Djumaryo, Ucin Nusirwan dan Saleh Kamah. Murdani bertemu Kolonel Dading Kalbuadi dan menginspeksi Dili dengan kendaraan amfibi BTR-50 bersama Kalbuadi dan dua petugasLainnya (Kolonel Sinaga dan Navy Captain Kasenda).
Pembunuhan di dermaga, pada tanggal 8 Desember 1975 (pukul 0900): 27 wanita di tawan, beberapa orang Cina dan beberapa orang Timor, ditawan di dermaga. Beberapa wanita memiliki anak, dan mereka semua menangis. Prajurit Indonesia mengambil anak anak yang menangis dari ibu mereka dan memberikan mereka ke keramaian. Prajurit menembak para wanita satu per satu, memerintahkan para saksi untuk menghitung dan mereka melakukannya. 59 orang lainnya ditembak pada sore hari dengan cara yang sama. Ini adalah bagaimana kita mengetahui bahwa 86 terbunuh di dermaga pada hari itu.
Antara pukul 0900 dan pukul 1400: Para prajurit menembak sekelompok pemimpin Cina di jalan dekat Hotel Mimosa. Mereka juga menembak supir jip Palang Merah yang telah diberi tanda dengan jelas. Para prajurit juga menembak tiga puluh orang di luar bekas markas polisi militer.
Sebuah toko milik orang Cina, mengibarkan bendera Australia dari lantai tiga. Para prajurit sangat marah melihat bendera Australia. Mereka naik tangga dan menembak semua 23 pengungsi yang berteduh di apartemen di lantai tiga.
Mayat (banyak wanita, beberapa anak-anak) berada dimana mana di semu jalan di Dili. Prajurit memerintahkan beberapa orang Timor untuk memindahkan mayat. Beberapa orang Cina Timor (setidaknya tiga belas orang) perintahkan untuk menyiapkan ladang rumput di depan pelabuhan untuk dijadikan kuburan. Prajurit Indonesia membunuh mereka kemudian di pelabuhan.
East di seret ke dermaga, kedua tangannya diikat dengan kawat. Prajurit menendang dia dan menusuknya dengan bayonet. Dia terus berteriak mamaki mereka. Ketika dia berada di dermaga, menurut seorang saksi mata Cina yang berdiri beberapa meter darinya paa saat itu, Roger East berpaling dari laut dan bertatap muka dengan pasukan Indonesia. Dia berteriak dengan frasa seperti, "Saya bukan Fretilin", "Saya orang Australia". Pasukan Indonesia menembak dia bersama dengan yang lainya. Tubuhnya dilempar ke dalam laut.
1 Jim Dunn's pioneering investigations helped establish the truth about these events. See also Chega Part 7.2 - Unlawful Killings and Enforced Disappearances.
Silahkan klik pada thumbnail untuk melihat gambar lebih besar
Silahkan klik pada link untuk melihat relevan pdf
- Age 8 Dec 75 (148 kb)
- Age 13 Dec 75 (188 kb)
- AJA telegram (72 kb)
- Anti-Dunn (324 kb)
- Chinese face starvation (656 kb)
- Chris Santos telegram (144 kb)
- Counting at the wharf (204 kb)
- David Scott telegram (180 kb)
- Dunn Report (2500 kb)
- The Age (196 kb)
- Thiess telegram (56 kb)