School of Humanities and Social Sciences (HASS)

Prev

Next

Adegan dalam film ini menampilkan Mark Winter, yang memerankan Tony Stewart, memimpin kelima wartawan waktu mereka berebutan mencari tempat bersembunti.

Apa sebenarnya yang terjadi pagi itu?

Pertanyaan ini dapat dijawab secara yakin, bersyukur atas pemeriksaan resmi Koroner, di mana saksi mata dihadapkan pada berbagai pertanyaan. Pemeriksaan resmi juga mendengar pengakuan dari saksimata di Timor Leste melalui pemanjang lidah yang diberitahu oleh masyarakat saksi mata akan apa yang terjadi di Balibo pada saat pembunuhan. Pemanjan lidah memberikan pengakuan yang meyakinkan apa yang dikatakan saksi mata. Walaupun pada awalnya terdapat perbedaan akan pengakuan saksi mata, sebenarnya kesamaan yang akurat akan fakta dari pembunuhan. Perrbedaan timbul atas kenyataan bahwa setiap saksi memandang hal ini dari berbagai sudut pandang yang berbeda dan dalam waktu yang berbeda.

Pada dasarnya dalam fakta, terdapat kesepakatan bahwa militer Indonesia membunuh wartawan sebagai berikut:

Sekitar pukul s 0400h kelima wartawan dibangunkan oleh prajurit Fretilin. Mereka dipisahkan dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah tim saluran 9 yang terdiri dari Malcolm Rennie dan Brian Peters. Mereka pergi ke kota dan menyuting dari sana. Brian Peters menyuting sebuah helikopter Indonesia yang sedang terbang diatas benteng. Kelompok kedua adalah tim saluran 7 yang terdiri dari Greg Shackleton, Gary Cunningham dan Tony Stewart. Mereka berada dekat rumah Cina dan menyuting pasukan darat garis pertama Indonesia. Kemudian kedua kelompok berkumpul di dekat rumah Cina di mana mereka ditangkap oleh pasukan Indonesia.

Pasukan Indonesia dibagi dalam tiga tim: Susi, Tuti dan Umi. Tim Susi dipimpin oleh Captain Yunus Yosfiah merupakan kelompok pertama yang memasuki Balibo. Anggotanya memakai pakaian sipil. Tidak ada tembakan dari Kota Balibo atau dari rumah Cina. Para wartawan tidak silapi sebagai pejuang. Mereka jelas mengidentifikasi diri sebagai orang Australia dan sebagai jurnalis. Mereka tak bersenjata dan berpakaian preman. Mereka mengangkat tangan yang pada umumnya diakui sebagai sikap menyerah. Brian Peters yang terjatuh duluan. Ketiga wartawan lainnya ditembak di dalam rumah. Yang terakhir bersembunya didalam kamar mandi dan ditikam ketika ia keluar.

Kelima wartawan tidak tewas dalam operasi tembak menembak namun sengaja dibunuh oleh pasukan Indonesia.

Setelah mereka meninggal setidaknya mayat tiga jurnalis dipakaikan seragam tentara Portugis, diatas mayat mereka ditempatkan senjata Fretilin yang dirampas dan kemudian foto para mayat diambil bahkan di syuting untuk mengatisipasi apabila mereka butuh untuk membuat propaganda. Namun, senjata tersebut tidak terfungsi oleh tentara Fretilin yang telah mundur.

Kelima mayat kemudian dibakar beberapa kali selama beberapa hari. Pihak berwenang di Indonesia kemudian meluncurkan kampanye disinformasi.

Menurut asisten pengacara pemeriksaan resmi, Mark Tedeschi QC:

"Ketika berita kematian disiarkan, tidak ada satu katapun disampaikan secara umum atau pribadi oleh Pemerintah Australia atau pemimpin politik untuk mengatakan keterlibatan atau menyalahkan Indonesia atas kematian para wartawan. Sebaliknya, pejabat Australia baik secara umum maupun secara pribadi tetap dalam posisi yang hanya dapat disebut aneh taoi nyata dengan meminta Militer di Indonesia untuk menggunakan pegawai yang berkualitas untuk mencari informasi dari sekutu mereka yaitu milisi Timor tentang kematian para wartawan ... "

top