School of Humanities and Social Sciences (HASS)

Next

Indonesia adalah jajahan Belanda yang diduduki oleh Jepang selama Perang Dunia II. Belanda berusaha untuk mengontrol kembali secara paksa ketika perang berakhir. Serikat Australia, beberapa pemimpin agama dan anggota masyarakat merespon pada momentum yang sangat penting ini dengan memberikan dukungan untuk kemerdekaan Indonesia.

Federasi Pekerja Pasisir Australia (WWF) mencegah keberangkatan kapal Belanda yang penuh dengan pasukan, persenjataan, dan perlengkapan lainnya dari pelabuhan Australia. Dimulai di Brisbane, embargo tersebut mendapatkan banyak dukungan dari seluruh pekerja di pelabuhan utama lainnya di Australia termasuk Sydney, Melbourne dan Adelaide. WWF menolak memuat barang barang Belanda dan memperbaiki kapal Belanda, dan kemudian memboikot semua transpotarsi, toko, dan pengisian darat. Embargo terus berlangsung sampai tahun 1948. Tiga puluh satu serikat pekerja Australia dan empat serikat pekerja Asia secara langsung menghentikan 559 kapal yang seharusnya adalah persediaan bagi usaha Belanda. Selambat lambatnya akhir Maret 1946, misalnya, 1000 truk Belanda yang seharusnya dikirim ke Indonesia masih tetap di Australia. Pembuat kebijakan di Australia bersimpati dengan kelompok nasionalis anti-kolonial tetapi juga ingin menghentikan pertumbuhan gerakan komunis yang terlibat dalam perjuangan untuk kemerdekaan.

Sekretaris departemen urusan luar negeri Australia eksternal memberikan peringatan bahwa jika partai republik Indonesia gagal, "Militan gerakan kiri [akan] segera mengumpulkan kekuatan di seluruh Indonesia." Ini akan menghasilkan Indonesia yang "hilang dengan potensial berseteru dengan gerakan Republik Kiri. Secara komersial dan dengan cara apapun harus dihindari apapun resikonya."1 pemerintah Australia sepakat untuk mencarter sejumlah kapal (Esperance Bay dan Manoora) untuk mengambil hampir 4000 orang Indonesia yang melawan Belanda ke wilayah dibawah kekuasaan Republik di Jawa. Serikat pekerja Australia dan organisasi lainnya menekan pemerintah Australia untuk mencegah Ingris, dibawah perintah Belanda, untuk mencoba menghapus sebagian besar gerakan nasionalis Indonesia nationalists dalam kapal Esperance Bay sebelum mereka mengapai keselamatan di Jawa.

Ada banyak kontak antara Indonesia dan Australia selama Perang Dunia II, termasuk beberapa perkawinan silang. Tokoh agama dan akademisi yang aktif di Asosiasi Australia-Indonesia, yang dibentuk pada tanggal 3 Juli 1945 dalam sebuah pertemuan umum di Sydney. Uskup Anglikan di Sydney, George Cranswick, antropolog Adolphus Elkin dari Universitas Sydney, pemimpin serikat buruh Guy Anderson dan kaum ningrat lainnya menjabat sebagai eksekutif. Masyarakat Australia mendukung perjuangan anti-kolonial di Indonesia, sebagaimana tentara Australia yang bertugas di Hindia Belanda Timur selama Perang Dunia II.

Pemerintah Australia akhirnya merujuk sengketa antara INasionalis ndonesia dan Belanda ke Dewan Keamanan PBB sebagai 'pelanggaran perdamaian' di bawah Pasal 39 dari Piagam PBB. Pemimpin Indonesia sangat menghargai dukungan ini, bahkan menominasikan Australia sebagai wakil mereka di PBB Kantor Komite Bagus. Menteri luar negeri dari Indonesia, Dr Subandrio, nanti akan menjelaskan Australia sebagai 'bidan' dari Republik Indonesia. Kemerdekaan Indonesia datang pada tanggal 27 Desember 1949.

1 J. Burton, Personal Letter to F.K.Officer, 27 August 1948, 'Documents on Australian Foreign Policy 1937-49', Vol XIII, Indonesia, 1948, p.270.

top